Selasa, 21 Oktober 2008

KAMI TIDAK MENGINGINKAN KESEMPATAN KERJA YANG TOTAL

Apabila sebuah keluarga mendapatkan sebuah mesin cuci, kamu tidak akan mendengar ocehan salah satu anggota keluarga yang sebelumnya mencuci baju dengan menggunakan tangan mengeluh kalau mesin cuci tersebut membuat mereka “tidak bekerja lagi”. Namun cukup aneh, apabila perkembangan yang sama terjadi pada skala dan lingkup sosial yang lebih luas, masalah seperti ini dilihat sebagai sebuah problematika yang cukup serius— “pengangguran” misalnya, yang hanya dapat dituntaskan dengan membuka lapangan-lapangan kerja baru untuk dapat merekrut tenaga-tenaga kerja yang menganggur.

Solusi untuk memperluas kesempatan kerja dengan mengimplementasikan sebuah pekan kerja yang lebih pendek memang tampak menyelesaikan masalah lebih rasional. Namun solusi seperti ini tidak menyentuh irasionalitas mendasar dari sebuah sistem sosial yang didasari oleh hubungan-hubungan pasar. Dengan hanya bereaksi pada salah satu manifestasi dari irasionalitas (fakta bahwa banyak orang bekerja seharian dan yang lainnya menganggur) secara bersamaan cenderung memperkuat ilusi bahwa bentuk kerja sekarang adalah sesuatu yang penting dan normal. Seperti saja bila satu pokok masalah yang secara aneh tidak dilihat setara, yang membuat absurditas dari sembilan puluh persen pekerjaan yang ada tidak tersentuh.

Di dalam suatu masyarakat yang sehat, penghapusan seluruh pekerjaan absurd ini (bukan hanya para produsen atau pasar yang menggelikan dan komoditas-komoditas tidak berguna tersebut, tapi ruang lingkup yang luas dari elemen-elemen yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam mendukung dan melindungi seluruh sistem komoditi) akan mereduksi tugas-tugas yang benar-benar penting sampai ke level yang terendah (mungkin kurang dari 10 jam tiap minggunya) hingga tugas semacam ini akan dapat dikerjakan secara lebih mudah, sukarela dan kooperatif, selanjutnya menghapuskan kebutuhan kita akan keberadaan aparatus-aparatus insentif ekonomi dan penyelenggaraan negara.(1)
Beberapa aksi yang terjadi di Perancis baru-baru ini (yang hampir sama sekali tidak direportasikan di media Amerika) memperlihatkan sebuah perbedaan yang menyegarkan dari kaum “progresif” yang biasanya terlihat menuntut kesetaraan dari “perbudakan upah”.

Pada bulan Desember dan Januari, ribuan pengangguran berdemonstrasi di lusinan kota di perancis, dalam banyak kejadian mereka menduduki kantor-kantor pengangguran, ketenagakerjaan, perusahaan utiliti, dan agensi-agensi reposesi, menginvasi toko-toko dan restoran mewah, juga bersama-sama melakukan penyerangan di beberapa supermarket. Gerakan ini walau lebih hebat dari aksi-aksi pengangguran di AS, sayangnya sebagian besar gerakan berada di bawah kontrol assosiasi-assosiasi pengangguran resmi (didominasi oleh partai-partai kiri dan serikat pekerja). Tapi di pihak yang lain, kebanyakan aksi-aksi pendudukan yang terjadi diinisiatifkan oleh para individu-individu yang menolak direpresentasikan oleh para birokrat-birokrat asosiasi, mulai mengangkat suara dan beraksi untuk diri mereka sendiri.

Kecenderungan radikal ini terjadi pada awal pertengahan januari ketika para penganggur menduduki Paris Trade Center dan `Ecole Normale` superieure` yang elit. Lalu setelah dipaksa keluar oleh polisi mereka mengambilalih sebuah amphiteather di universitas Jussieu. Walau pendudukan ini secara jelas illegal, otoritas kampus menolak untuk memanggil polisi, dan pertemuan harian yang dihadiri seratus sampai dua ratus orang selanjutnya diadakan di situ hingga dua sampai tiga bulan.
Sementara sebagian besar dari gerakan penganggur dikendalikan secara birokratik dan murni simbolik (ditujukan untuk menekan pemerintah agar melakukan beberapa reformasi), gerakan pendudukan di Jussieu menginginkan pelaksanaan sebuah forum permanen yang dicanangkan untuk debat publik. Mereka tidak hanya membuka pertemuan bagi para pengangguran tapi juga bagi siapa saja yang tertarik untuk bergabung. Gerakan ini juga mulai mencari hubungan di wilayah lainnya.
Dua prinsip dasar yang disetujui bersama oleh gerakan Jussieu: (1) bahwa aksi dan perjuangan harus dilakukan secara otonom (partai-partai, serikat pekerja, dan organisasi-organisasi hierarkis lainnya harus dianggap sebagai musuh oleh gerakan yang radikal), dan (2) bentuk kerja-upahan harus digantikan dengan aktifitas self-organized yang lebih bebas.

Dewan Jussieu mengklaim tidak merepresentasikan siapa pun, dewan tersebut diadakan hanya sebagai sebuah tempat bertemu di mana orang-orang dapat mendiskusikan apa saja yang mereka mau. Dan apabila tertarik, dapat bergabung dengan yang lainnya untuk melaksanakan proyek yang disetujui ini. Dalam beberapa kejadian, seluruh gerakan yang mendadak ini dilakukan oleh beberapa lusin orang dari kelompok-kelompok pengelana, yang biasanya melakukan intervensi-intervensi di acara fashion show ataupun melempari tomat busuk ke wajah para agen-agen pajak; lalu menyerang sebuah supermarket dan memaksa pemiliknya untuk memberikan satu gerobak penuh makanan; lalu pergi ke subway dan pergi ke bagian kota lainnya untuk menyebarkan selebaran-selebaran ataupun graffiti yang bertuliskan: “waktu yang telah kau jual takkan pernah kau dapatkan kembali”, “kami tidak menginginkan bagian dari roti, kami menginginkan pabrik rotinya!”; dan setelah itu kembali ke dewan Jussieu untuk menceritakan hari yang penuh petualangan itu.

Di halaman selanjutnya kami telah menerjemahkan beberapa leaflet dan komunike. Kami menyebarkan materi-materi tersebut karena kami pikir hal ini mungkin dapat berguna dan dapat menantang orang-orang di negara lainnya yang menghadapi situasi yang sama. Sirkulasi ini tidaklah ditujukan untuk (seperti yang sering dilakukan oleh reportase-reportase kejadian dari gerakan-gerakan internasional lainnya) meliputi orang-orang dengan sebuah pertunjukan kejadian yang membesar-besarkan dan cenderung bombastis, yang memberi impresi bahwa revolusi hanya dapat terjadi dengan aksi dashyat tanpa henti yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang berada di bagian planet lainnya.

Kami bukannya berpendapat kalau Perancis sedang berada di ambang pintu revolusi. Aksi yang dilaporkan di sini hanya dilakukan oleh minoritas dari populasi, dan gerakan sudah terlihat berakhir (selain pertemuan Jussieu yang diadakan seminggu dua kali). Tapi kami juga berpendapat kalau para partisipan gerakan ini telah menemukan bahwa kehidupan sesungguhnya dimulai dari pengalaman-pengalaman personal. Dan pengalaman seperti ini kadangkala membawa kita ke sesuatu hal yang lebih besar.

BUREAU OF PUBLIC SECRETS [BIRO RAHASIA PUBLIK] April 1998
________________________________________

Sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di negara ini. Sampai-sampai media, politikus, organisasi-organisasi pemerintah lainnya berusaha menutup-nutupi dan mendiamkannya. Dua bulan lalu Jospin secara blak-blakan menolak tuntutan para penganggur. Sejak saat itu serikat-serikat dan assosiasi pengangguran resmi menyuruh para penganggur untuk pulang ke rumah dan menyerahkan seluruh masalah kepada mereka. Media sama sekali tak menaruh mata, dan yang terjadi hanyalah penyebaran-penyebaran selebaran, tidak lebih dari itu.

Namun di sisi lain, hampir di semua tempat di negara ini para individu datang bersama-sama dengan kelompok-kelompok maupaun kolektif lalu bergabung di pertemuan Jussieu dan mulai berdiskusi dengan yang lainnya secara langsung dan bebas.
Kami adalah salah satu dari mereka yang mengambil bagian pada pertemuan di universitas Jussieu ini. Selama akhir bulan dan setengah bulan ini sebuah forum yang kami organisasikan sendiri telah dilaksanakan setiap malam. Kami mulai saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain—“para penganggur”, ”pekerja miskin”, “pelajar”, “gembel”, “kaum militan”, “unionist”, dan “siapa saja”. Kami menaruh tanda kutip pada label-label individu di atas karena, selain saling berdiksusi, kami mulai menyadari bahwa label-label tadi hanya menutupi diri kami untuk mengisolasikan diri kami satu sama lain, bahkan untuk memanipulasi diri kami untuk saling menyakiti; selain jabatan sosial kami yang sebenarnya. Kami semua merupakan subjek dari sebuah sejarah yang sama, penindasan yang sama, dan juga tergambarkan hampir dengan kebutuhan, keinginan-keinginan dan pertanyaan yang sama.

Kami mulai untuk mendiskusikan SEGALA SESUATU. Dimulai dengan apa yang sebenarnya memporak-porandakan hidup kami, yaitu kerja dan ketidakbermaknaannya (kami menyimpulkan bahwa sembilan puluh persen dari produksi masyarakat sekarang ini adalah omong kosong tak berguna), upahnya yang menyedihkan, hirarkinya, horor kesehariannya; juga kebosanan dan kemalangan dari pengangguran, yang mulai kita sadari bahwa itu semua hanyalah bagian dari sirkulasi kerja—sebuah ancaman yang tertanam di pikiran setiap pekerja, memaksa mereka untuk terus tunduk pada pemerasan ekonomi.

Kami juga membicarakan masalah uang dan perdagangan; juga kesehatan, makanan yang kita konsumsi, juga udara yang kita hirup. Dan semakin jelas bahwa, dari sisi manapun kamu memahami masyarakat ini, kalian tidak akan dapat mengubahnya secara satu per satu tanpa mengubah keseluruhannya; karena segala sesuatunya telah dikaitkan dengan keuntungan dan uang. Dan mahkluk hidup diperlakukan tidak lebih dari sekadar komoditi-komoditi lainnya: membayar lebih atau sengsara, dieksploitasi, lalu dibuang, layaknya sampah ketika tidak ada lagi yang dapat diperas untuk menghasilkan keuntungan. Setelah mecapai konklusi ini, kami memutuskan untuk mengkomunikasikannya pada yang lainnya.

Jadi kami mulai menulis selebaran. Tapi kami juga merasakan bahwa kontak langsung itu lebhi penting, karena itu kami pergi ke kafetaria-kafetaria dari berbagai macam usaha untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pekerja, juga melakukan invasi ke kantor-kantor (ketenagakerjaan dan pengangguran, perusahaan utiliti, kantor surat kabar, restoran, dll) sebagai usaha untuk mengatakan kepada semua orang apa yang kita capai bersama di dalam pertemuan. Kami bertemu dengan para imigran illegal dan mengekspresikan siapa diri kami, dengan para pemogok wildcat, dan juga dengan konfederasi petani yang menolak penggunaan jagung rekayasa genetika, karena kami semua sadar bahwa kesengsaraan yang kami alami bersama berasal dari penyebab yang sama: uang tunai, dan sistem yang menunjangnya.

Kami mulai mencari ide-ide yang lebih baik untuk sebuah masyarakat yang kami inginkan dengan melakukan beberapa eksprerimentasi langsung: pertemuan yang diadakan terus-menerus, membangun sebuah kebun kolektif agar kami dapat menanam sumber makanan kami sendiri, mengajarkan kedermawanan kepada penjaga toko (contoh-contoh utama dari kesombongan sosial); mencoba cara-cara yang berbeda dari hubungan interpersonal dalam permainan, menjelajah, mengadakan pesta makan malam. Seperti yang dikatakan oleh salah satu dari kami pada saat pertemuan: “selama dua bulan ini aku telah mendapatkan banyak teman, aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun, dan dengan leganya aku mengatakan bahwa aku tidak lagi menunggu dengan gelisah cek per bulanku seperti yang dialami oleh banyak orang.”

Kami juga memperingatkan kepada para musuh-musuh kami, (bankir, pemodal, politisi, administrator, dan jurnalis) bahwa setelah kami memecahkan rantai isolasi kami, mereka tidak akan dapat lagi melakukan perbuatan-perbuatan kotor mereka terhadap kami.

Kami telah direpresi (cara pemerintah merespons gerakan kami). Kami semua juga berjuang untuk membebaskan teman-teman kami yang dipenjara. Dan kami akan terus menerus berefleksi dan kritis (juga satu dengan yang lain).

Kami juga tidak hanya berkonklusi bahwa tidak akan pernah ada kerja yang cukup bagi semua orang (yang keduanya disebabkan oleh mesin-mesin dan juga perbudakan baru di negara-negara dunia ketiga), namun walaupun lapangan kerja itu ada, kami tidak berkeinginan untuk bekerja satu jam pun hanya untuk menghasilkan kebodohan, sampah yang tidak berguna. Dan karena seluruh keperluan produksi haruslah dieksaminasi kembali dan didasari atas kebutuhan dan hasrat kita. Seluruh uang yang ada di dunia ini, walau itu dibagikan secara rata pada semua orang, tidak akan memberikan perubahan yang berarti. (Kami akan tetap menerima uang yang kami tekan pada mereka, tapi uang bukanlah sesutu yang sebenarnya kami inginkan.)

SELAMA UANG ADA, MAKA TIDAK AKAN PERNAH CUKUP BAGI SEMUA ORANG.

Refleksi ini secara alami telah membuat kami sadar bahwa kami perlu membangun bentuk yang berbeda dari masyarakat. Sebuah tatanan di mana setiap orang dapat menentukan sendiri aktifitas dan produksi mereka daripada menjadi budak dari sistem produksi sekarang ini. Ini memang sebuah proyek yang besar. Tapi semenjak kami semua adalah “pengangguran”, kami mempunyai satu harta karun yang tidak berharga, yaitu, waktu! Dan sejak saat ini kami memutuskan untuk menggunakan setiap waktu bagi kehidupan kami, untuk sebuah proyek-proyek yang menghasilkan momen-momen yang hidup dalam kehidupan kami, daripada melewatkan waktu dengan kerja-kerja yang hampa setiap hari, pulang rumah dan menonton tv dan mengulangi hari yang sama di esok harinya sampai ajal tiba ataupun menunggu antrian panggilan kerja di kantor-kantor menanti pekerjaan yang absurd.

Kami tahu kalau jutaan orang mempunyai perasaan dan ide yang sama, walau dalam banyak kasus keinginan seperti ini terkubur di dalam jurang perasaan mereka. Namun segala sesuatunya terserah pada kita semua, jika kita menginginkan untuk lepas dari isolasi-isolasi dan kepatuhan kita masing-masing. Kami mulai mengunjungi satu sama lain. Diskusi mengambil tempat di Paris dan beberapa daerah lainnya. Organisasi dan aksi bersama-sama pun dikoordinasikan.

Bagi kami, kesejahteraan yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan uang dan komoditi. Kami menemukan kekayaan di dalam pertemuan-pertemuan kami, rencana kolektif, dan juga di dalam mimpi-mimpi kami yang lain, sebuah masyarakat yang manusiawi—sebuah masyarakat di mana semua orang dapat bergabung untuk membayangkan bentuknya dan mengkreasikannya.

[7 Maret]
________________________________________

Kami menduduki E`cole` Normale` Superieure` pada saat ini adalah untuk sebuah alasan yang tak dapat menunggu: kami menginginkan sebuah forum untuk dapat mendiskusikan sesuatu dan mendebatkannya. Isolasi-isolasi dari para individu merupakan poin lemah dari perjuangan-perjuangan sebelumnya dan merupakan senjata utama dari sistem sekarang ini. Isolasi harus dihancurkan.

[ca. 9 Januari]
________________________________________

Kami menduduki markas nasional partai sosialis sebagai sebuah respons dari pernyataan Jospin (perdana menteri partai sosialis) di TV semalam. Jauh dari niatan lain, gerakan ini dilakukan untuk mempertanyakan seluruh organisasi kerja dan isu-isu sosial yang mendasar, yang dengan secara hati-hati dihindari oleh Jospin dalam pidato-pidatonya. Karena itulah kami menyerukan kepada semua orang untuk mengorganisasikan diri mereka untuk meneruskan dan mempertahankan perjuangan.

[22 Januari]
________________________________________

Kamu tidak memerlukan agensi-agensi ketenagakerjaan untuk melakukan PENDUDUKAN! Bergabunglah dengan kami di Dewan pertemuan di unversitas Jussieu. Tiap minggu pada pukul 18.00
________________________________________

Perjalanan kami adalah hari-hari aktif pertemuan, hari-hari di mana kami bermain-main dengan kota dan dengan hidup. Kami mencoba untuk tidak memapankan rutinitas, namun mencari inspirasi dalam membangkitkan ekspresi imajinasi setiap orang. Beberapa orang menganggap antusiasme kami berlebihan. Kami tidak mengklaim lebih superior dari orang lain, tapi kami merasakan bahwa kebersamaan kami mengandung sebuah benih keajaiban. Sedikit demi sedikit hubungan baru tercipta; kami menemukan kembali momen kebebasan; kedatangan bersama mimpi-mimpi kami, bahkan kegilaan kami—membawa kami menuju sebuah realita yang bersemangat dari sebelumnya. Musim dingin sudah lama melanda. Biarkan bunga-bunga bermekaran di musim semi yang cerah.
________________________________________

Cara terbaik untuk menghapuskan pengangguran adalah dengan menghapuskan kerja dan uang yang berkaitan dengannya.
________________________________________

Sangatlah absurd untuk menuntut “terciptanya lapangan kerja”. Kekayaan yang ada sudah lebih dari memadai untuk mencukupi kebutuhan semua orang; yang diperlukan hanyalah tinggal membagi-bagikannya. Sebagaimana seluruh bentuk-bentuk produksi yang tidak tidak melayani kepentingan yang sebenarnya, sebuah revolusi sosial akan menutup pabrik-pabrik dan menghapuskan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berguna dalam dua belas jam daripada kapitalisme selama dua belas tahun. Kami tidak menginginkan kesempatan kerja yang total, kami menginginkan kesempatan hidup yang sepenuhnya.
________________________________________

Membuat tuntutan seperti ini adalah benar secara moral maupun strategi, layaknya benefit bagi pengangguran ataupun jasa pelayanan publik yang gratis. Namun sebuah gerakan sosial seharusnya tidak membatasi dirinya hanya sampai sini. Mengakumulasilakannya untuk menuntut keadilan dari seluruh kekuatan-kekuatan yang didasari atas ketidakadilan. Slogan terkenal: “REALISTISLAH, DAN TUNTUT YANG TAK MUNGKIN!” bukanlah semata sloganis, lirikal, provokatif dan membesar-besarkan, namun merupakan suara yang paling masuk akal dan sehat. Siapapun kita, pelajar, pekerja, ataupun penganggur, apa yang kita perlukan adalah tempat, waktu untuk bertemu, untuk membagi dan menceritakan mimpi-mimpi dan keinginan kita, dan membangun kembali hidup kita. Kita harus menuntut keindahan dan kesejahteraan bukannya kesempatan kerja!
________________________________________

Sampai sekarang ini, momok pengangguran telah digunakan oleh sistem kapitalis untuk meneror masyarakat agar menerima segala jenis pekerjaan yang disodorkan kepada mereka, dan lebih absurd lagi, menerimanya dalam kondisi apa saja. Bukankah ini saatnya bagi kita, untuk mempertanyakan seluruh makna dari produksi yang kita lakukan? Apa yang kita produksi? Untuk siapa? Bagaimana? Apa dampaknya pada kehidupan sosial dan ekologi? Mulailah berhenti untuk menggantungkan hidup kita kepada para spesialis yang mengklaim berbicara dan berjuang demi kehidupan kita. Semuanya terserah pada kita untuk memutuskan apa yang mungkin, apa yang kita mau, dan bagaimana cara mendapatkannya. Semua tergantung pada diri kita untuk mengklaim kekuasaan pada diri kita sendiri, semua terserah pada kita untuk mengambil kembali sumber daya alam material yang telah dirampok dari kita secara politis dan finansial.
________________________________________

Orang yang tidak bekerja memiliki waktu luang yang banyak, karena mereka telah terlepas dari belenggu produksi. Mereka menjadi berbahaya ketika mereka mencari sesuatu yang signifikan dengan waktu yang luang itu. Pilihan sebenarnya bukanlah bekerja dan mendapat upah ataupun menjadi penganggur, tapi antara aktifitas yang bebas dengan aktifitas yang menciptakan keterasingan (alienasi).
Gerakan ini dapat menjadi platform demi artikulasi dari seluruh perjuangan yang terpisah yang telah berhasil mencapai tahap yang sama dalam perjuangan melawan seluruh sistem komoditi.

Kontradiksi mendasar dari gerakan ini berada di antara kecenderungan untuk membatasi dirinya sendiri pada tuntutan reformasi yang diserukan oleh para birokrat asosiasi dan kecenderungan radikal untuk menghapus seluruh sistem yang disetujui dan diekspresikan di dewan pertemuan Universitas Jussieu. Sejauh ini para birokrat dan para spesialis ini mempunyai kepentingan yang berbeda, mereka tidak menginginkan masalah ini mencapai pada puncaknya, karena apabila itu terjadi, mereka juga akan kehilangan pekerjaan mereka. Mereka tidak mempunyai keinginan lain selain untuk membawa gerakan pada perjuangan yang absurd yang takkan pernah dimenangkan maupun berakhir. Satu hal yang tidak mereka inginkan adalah ketika semuanya telah kehilangan kontrol.

Masalah yang serius di dalam gerakan ini adalah bagaimana menghapus isu-isu reformis yang dianjurkan oleh para spesialis dari isu sentral pengangguran, dan bagaimana menarik pelatuk reaksi berantai yang akan menyebar ke seluruh masyarakat dan pada akhirnya akan menghentikan seluruh tirani dari ritme produksi. Pemberontakan mei 1968 menghasilkan efek seperti ini. Namun para organisasi birokrat kiri pada waktu itu (Partai Komunis Perancis), yang mempunyai pengikut kuat dari para pekerja, dengat sangat sukses menyabotase gerakan ini. Walau begitu, gerakan mei 68 ini menunjukan sebuah keefektifan yang menakjubkan dari kelompok-kelompok kecil yang berjumlah lusinan orang yang mengimplementasikan apa yang mereka inginkan dan putuskan. Kelompok ini memberi kebebasan dalam beraksi maupun berpendapat—hanya jika orang-orang mempunyai sesuatu yang dilakukan secara bersama, mereka juga mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan.
________________________________________

Mayoritas dari para penganggur ini terpenjara sendiri oleh isolasi mereka. Gerakan ini sedang berada dalam persimpangan: di antara pilihan terus-menerus menuntut reformasi yang tidak mungkin dari sistem negara maju ini yang takkan membawa perubahan apa pun pada para penganggur; ataukah mulai menyadari basis esensial dari problematika sebenarnya dan mulai mempertanyakan hubungan-hubungan sistem komoditi yang telah menghancurkan segalanya yang manusiawi yang pernah ada di masyarakat ini.
________________________________________

Sosiolog tertentu menggambarkan kita sebagai sebuah “generasi yang dikorbankan”. Tapi, kami menolak untuk mengorbankan hidup kami demi kepentingan stok pasar, pemerintahan, dan politik busuk mereka. Kami memilih melakukan perjuangan di dalam keseharian kami yang dilakukan secara otonom. Kami tidak mempunyai pemimpin. Dewan kami menyamaratakan kekuasaan pada semuanya; komite-komitenya adalah subjek dari kolektif.

Wahai kawan pelajar, apabila tidak terjadi sebuah perubahan ekonomi dan sosial yang mendasar, kita semua akan berakhir menjadi penganggur di kemudian hari. Kami menyerukan kepada semua orang untuk mendukung hak-hak para penganggur dan pekerja untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Setiap individulah yang akan mempengaruhi bagaimana wajah masa depan nantinya. Jangan biarkan mereka yang memutuskannya untukmu! Lawan balik!

—Komite Aksi Pelajar Menengah Atas
________________________________________

“Kemakmuran 358 milyuner—358 orang-orang terkaya di dunia—melampaui jauh pendapatan per tahun dari empat puluh lima persen orang-orang termiskin di planet ini yaitu, 2,6 milyar orang” (Le Monde Diplomatique, feb 1997). Kamu pasti sungguh naif untuk berpikir bahwa para politisi-politisi bijak itu dapat mengobati keluh-kesah dari kaum papa. Para politisi itu, tidak lain hanyalah administrator-administrator yang bertugas melayani majikan-majikan bumi yang sesungguhnya: para pemilik perusahaan multinasional.

Kita memerlukan semangat untuk membangun sebuah “masyarakat yang bebas”— semangat untuk kreasi sebuah masyarakat yang berbeda. Hal ini memang tampak lebih kompleks, namun lebih baik dibandingkan menunaikan cek per bulan kita dan pergi tidur, atau menunggu para pahlawan politik untuk memecahkan masalah kita. Dan proyek seperti ini memberikan kita manfaat yang lebih baik: sebuah “pendudukan” yang sangat berharga bagi umat manusia!

[Brittany]
________________________________________

Pada tanggal 8 january 1998, 200 anggota dari konfederasi petani bereaksi menentang pemerintah terhadap keputusan untuk menetapkan penggunaan jagung relayasa genetika di Perancis, mereka mendobrak gudang Novartis Seed Company, membuka sak-sak jagung dan membakarnya, sebagai sebuah usaha untuk menunjukan berbahayanya penggunaan jagung jenis ini terhadap manusia. Menurut petani-petani ini jagung ini beresiko mentransmisikan sebuah efek kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. (Le Monde, January 19)

Pergerakan penganggur harus melihat hubungan yang sangat dekat antara aksi seperti ini dan aksi yang dilakukannya. Relasi-relasi pasar yang cenderung menonaktifkan mayoritas masyarakat dari segala kekuasaan kehidupan mereka sendiri, adalah relasi yang sama yang menyebabkan degradasi konstan yang meningkat dari kondisi mendasar kebertahanan hidup oleh perusakan alam dan penyebaran racun ke seluruh populasi. Kapitalisme sama saja dengan bunuh diri. Setiap kali melangkah menuju perkembangan baru, secara bersamaan juga langkah baru menuju bencana. Skala dan lingkup luas dari bencana dan ancaman yang disebabkannya menjadi masalah hidup dan mati untuk mempertanyakan kondisi alami masyarakat yang didominasi oleh relasi-relasi komoditi. Karena alasan untuk bertahan hidup, kita semua harus melakukan suatu transformasi radikal dari masyarakat.

Tiga dari anggota konfederasi petani ditahan karena aksi ini. Kami berniat untuk mendukung mereka semampu kami, yaitu dimulai dengan mengambil bagian di dalam demonstrasi besar-besaran sebagai sebuah solidaritas dan protes yang akan diadakan di kantor pengadilan di saat pengadilan mereka berlangsung pada tanggal 3 februari.

—Dewan utama Jussieu (21 Januari)
________________________________________

Teknik-teknik dominasi berkembang secara tajam—saking cepatnya bahkan melebihi peningkatan keuntungan dan pengangguran—di mana siapapun yang tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan dihadapi pertanyaan seperti ini: apakah masih mungkin untuk mendengungkan kebenaran di saat banyaknya kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik berada dalam satu liga untuk menutup-nutupinya? Bagaimana, di tengah-tengah sebuah populasi yang diubah menjadi penonton yang tuli, dapatkah kita merintangi perbuatan-perbuatan para pebisnis dan pendukung-pendukungnya untuk terus melakukan kegiatannya di siang hari yang terang—mengetahui kalau takkan ada yang akan menentang mereka tanpa peduli mereka salah atau benar? Di tengah-tengah kondisi seperti ini, bagaimana kita menghadapi situasi yang benar-benar darurat?

Menghadapi jagung-jagung rekayasa genetika Novartis dan pemerintah yang secara menjijikannya melegalkan keberadaan jagung ini, yang juga telah berbohong mengenai keamanan pengkonsumsiannya, kawan-kawan dan aku sendiri berpikir bahwa aksi haruslah dilakukan sebelum terlambat.

Para demonstran yang bergabung di sebuah perkara pengadilan pertama kali mengenai tanaman rekayasa genetika, yang teriakan-teriakannya terdengar sampai ke dalam ruangan pada sore hari ini, pada saat yang bersamaan mengangkat perkara mengenai sebuah tatanan sosial yang beresiko meracuni kemanusiaan dan seluruh planetnya atas nama keseimbangan ekonomi dan perdagangan bebas.

—Re`ne riesel, “pernyataan pada agen pengadilan” (3 Februari)
________________________________________

Seperti yang kita semua harapkan, konfederasi petani telah sukses mengubah perkara dari ketiga anggota yang telah menghancurkan stok-stok jagung rekayasa genetika menjadi sebuah perkara pengadilan tentang jagung itu sendiri dan perusahaan agro-industri multinasional yang memproduksinya. 10 saksi dari para ilmuwan, petani ekologis, dan konsumen bersaksi mengenai penetapan pemerintah atas kultivasi jagung jenis ini adalah sangat berbahaya. 1800 orang yang berkumpul di luar gedung menuntut moratorium dari penjualan dan kultivasi jagung berbahaya ini. 292 organisasi dari 24 daerah juga mengekspresikan dukungan mereka. Apa pun hasil yang akan keluar(2), kejadian ini akan menandakan tahapan yang penting dari mobilisasi internasional untuk membela ekologi, petani agrikultur melawan perusahaan-perusahaan yang menggunakan bahan kimia yang berbahaya.

—Konfederasi petani (3 Februari)
________________________________________

Kami mengetahui apa yang kalian butuhkan lebih baik dari kalian sendiri. Karena kami adalah para spesialis!

Sejak kalian memilih kami, kami tidak pernah memikirkan hal yang lain selain kesejahteraan kalian.

Kami benar-benar khawatir mengenai masalah pengangguran ini. Karena itu kami berusaha mencari solusi yang mungkin dari masalah ini. Kami ingin memberitahu kalian mengenai efek dari kemalasan yang menyiksa diri kalian sendiri (semua orang tahu kalau itu cara kerja iblis). kami ingin menyelamatkanmu dari bahaya dan kesengsaraan ketika orang-orang mulai mengambil kontrol untuk diri mereka sendiri dan memutuskan segalanya menurut kemauan mereka sendiri.

Setelah melalui kalkulasi yang panjang dan melelahkan, para ahli kami menemukan solusi terbaik untuk merevitalisasi alur profit (yang tentunya akan dibagikan kepada semua orang), yaitu dengan membuka lapangan-lapangan kerja baru secara maksimum demi kebutuhan manusia, profesi seperti: penyemir sepatu, penjaga pintu, pembungkus plastik di supermarket, ataupun pelayan anjing kesayangan para bos. Dalam mengambil peranan penting dalam masyarakat, kami sangat percaya diri kalau para penganggur senang dengan kesempatan kerja ini.

Beberapa orang yag tidak puas selalu cepat mengkritisi tapi tidak pernah mengajukan ide-ide yag konstruktif tentang bagaimana menciptakan masa depan yang baik bagi kehidupan manusia. Mereka berusaha menyatakan bahwa program-program seperti ini (satu-satunya program yang dapat menyelamatkan peradaban) dan pekerjaan-pekerjaannya sangatlah tidak berguna dan menyengsarakan. Para kriminal-kriminal utopian ini menginginkan masyarakat mendahului profit, dan mengubah negara beradab ini menjadi barbarisme, seperti yang pernah terjadi di hari-hari gelap revolusi Perancis dan Komune Paris yang berdarah.

Kita semua telah mempelajari sejarah. Kami tidak menginginkan negara ini—negara indah yang menjamin kebebasan berekspresi, kesejahteraan, waktu luang, dan program olah raga di acara tv untuk masyarakatnya—diserahkan kepada kaum proletar pemabuk yang buta huruf. Karena itu dengan segala kebijaksanaan dan juga untuk keamanan semua, kami memutuskan untuk menawarkan pekerjaan pada ratusan ribu anak muda sebagai pembantu polisi, penjaga paruh-waktu, pengganti pemeriksa tiket, atau informer magang.

Teruslah untuk menggantungkan nasib kalian kepada kami. Dan jangan pergi ke universitas Jussieu, karena hal itu tidak akan menyelesaikan apa pun selain hanya merugikan diri kalian sendiri. Seperti yang kalian tahu, keinginan kalian adalah keinginan kami juga.

—PEMERINTAHMU
________________________________________

KETERANGAN:
1. Untuk sebuah eksaminasi yang lebih detil mengenai bagaimana masyarakat seperti itu dapat terjadi, taktiknya, dan analisa yang lebih dalam, baca The joy of revolution, buku dari Ken Knabb, Public Secrets.
2. Ketiga petani, Rene Riesel, Francis Roux, dan Jose Bove, ditunda hukumannya dan disuruh menebus denda kerugian sebanyak $ 100.000 atas kerusakan yang diderita pihak Novartis. Mereka tidak pernah berniat untuk menebusnya. Sementara itu isu ini telah diketahui secara luas dan menjadi perdebatan. Pemerintah Perancis merasa berkewajiban membentuk tim juri independen untuk menyelidiki kemungkinan resiko yang dapat disebabkan oleh Jagung rekayasa genetika tersebut. Untuk informasi yang lebih lanjut mengenai perkembangannya dapat kalian ketahui di sini: Confédération Paysanne, 81 Avenue de la République, 93170 Bagnolet, France (www.confederationpaysanne.fr).
________________________________________
Seluruh bagian dari tulisan ini keluar pada bulan Januari-Maret tahun 1998. Selain tulisan dari Bureau Of Public Secrets, semua teks ini yang ada di sini berasal dari Paris. Terima kasih untuk Luc Mercier, orang yang menyediakan hampir semua bagian dari teks dan informasinya. Diterjemahkan dari bahasa Perancis ke Inggris oleh Ken Knabb. Dari Inggris ke Indonesia oleh Ray—Kolektif Libertania, Balikpapan Kaltim. 2005.


Indonesian version of “We Don’t Want Full Employment, We Want Full Lives!”, a presentation of documents from the French jobless revolt of 1998. Translated 2003 (and revised 2005) by Ray, Kolektif Libertania (East Borneo).

Read More......

Senin, 20 Oktober 2008

KEKUATAN NEGARA

Sudah menjadi hal yang umum sekarang ini, bahkan di lingkar kaum anarkis, bahwa negara hanya dipahami sebagai budak multinasional, IMF, Bank Dunia, dan institusi ekonomi internasional lainnya. Menurut perspektif semacam ini, negara tidak punya banyak kuasa selain hanya sebagai koordinator institusi pengendalian sosial yang melaluinya penguasa-penguasa ekonomi berbasis korporat melanggengkan kekuasaan mereka. Melalui pandangan seperti ini, cukup mungkin untuk membuat kesimpulan bahwa, sedikit banyaknya perspektif seperti ini, akan menghalangi berkembangnya proyek revolusioner yang anarkis. Jika memang negara hanyalah sebuah struktur politis pemelihara stabilitas yang melayani kekuatan-kekuatan ekonomi besar dan bukan sebagai kekuatan yang berdiri dan memiliki kepentingannya sendiri, yang melanggengkan kekuasaannya melalui dominasi dan represi, dengan demikian maka negara dapat direformasi menjadi suatu oposisi institusional terhadap kekuatan multinasional. Berarti untuk membuat alternatif adalah cukup dengan membangun sebuah kekuatan kontra dari “Rakyat” untuk merebut kendali negara. Ide-ide seperti ini tampak memperkuat konsep absurd kalangan anti-kapitalis kontemporer bahwa kita harus mendukung negara-nasion melawan institusi ekonomi internasional. Pemahaman yang cukup jelas mengenai negara sangatlah diperlukan untuk membantah tren semacam ini.

Negara tidak akan ada bila saja kemampuan kita untuk menentukan kondisi eksistensi kita sebagai individu yang berasosiasi secara bebas, bersama dengan yang lainnya, tidak direnggut dari diri kita. Ketidakmampuan seperti ini (atau ketidakpunyaan) adalah alienasi sosial mendasar yang mengkondisikan terjadinya dominasi dan eksploitasi. Alienasi seperti ini akan lebih baik ditelusuri dengan lahirnya hak milik (Saya membawa pengertian hak milik seperti ini karena sedari awalnya sejumlah pemaknaan hak milik bersifat institusional—yakni dimiliki oleh negara). Hak milik dapat dimaknai sebagai hak eksklusif yang dimiliki segelintir individu dan institusi terhadap alat, ruang, dan material-material yang dibutuhkan untuk kehidupan, sebagai konsekuensinya—konsep hak milik—berarti membuat materi-materi tersebut tidak dapat diakses oleh sebagian besar orang. Klaim atau hak seperti ini bila ditelusuri ke belakang dilakukan melalui proses paksaan dan penggunaan kekerasan yang implisit. Ketika telah dicabut dari kebutuhan-kebutuhan mendasar untuk menentukan kondisi hidup, kaum tak berpunya ini, dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi yang ditentukan oleh para pemilik guna melanggengkan eksistensi mereka, dengan kata lain merubah eksistensi mereka menjadi budak. Negara adalah proses institusionalisasi yang merubah alienasi sosial—kemampuan masyarakat untuk merubah dan menentukan kondisi hidup mereka sendiri—menjadi akumulasi kekuasaan di tangan segelintir orang.

Tidak akan ada gunanya untuk mencoba membedakan apakah akumulasi kekuasan atau kekayaan yang menjadi prioritas ketika negara dan hak milik pertama kali dicetuskan. Karena sekarang ini kedua hal tersebut sangat terintegrasi. Memang, pada awalnya negara dapat dipahami sebagai institusi yang pertama kali mengakumulasi hak milik guna menghasilkan surplus melalui kontrolnya, sebuah surplus yang memberinya kekuasaan nyata terhadap kondisi sosial yang mana subyek tersebut haruslah eksis. Surplus ini membuat negara dapat mengembangkan berbagai macam institusi yang ia gunakan untuk memperkuat kekuasaannya: institusi militer, keagamaan, birokrasi, polisi, dan seterusnya. Dengan demikian, negara, sedari awalnya, dapat disebut sebagai kapitalis dengan sifatnya sendiri, yang memiliki kepentingan ekonominya yang spesifik untuk digunakan sebagai alat pelanggengan kekuasaannya terhadap kondisi eksistensi sosial.

Seperti kapitalis lainnya, negara menyediakan jasa layanan tertentu dengan harganya sendiri. Atau untuk lebih jelasnya, negara menyediakan dua jasa yang saling terkait dan integral: perlindungan hak milik dan ketentraman sosial. Negara menawarkan perlindungan atas hak milik pribadi melalui hukum-hukum yang mendefinisikan dan membatasinya dengan keberadaan institusi keamanan (polisi) sebagai penjaminnya. Justru itu, hak milik pribadi hanya dapat eksis dengan adanya institusi negara yang akan melindunginya dari orang-orang yang akan memanfaatkan hak milik tersebut bersama-sama. Inilah alasan kenapa Stirner menjelaskan hak milik pribadi sebagai bentuk hak milik pribadi atau negara yang digunakan untuk meniadakan “Yang Unik”. Negara juga menyediakan perlindungan bagi “masyarakat biasa” lewat kekuasaan eksternal yang ditentukan sewenang-wenang oleh negara melalui aparatus-aparatusnya: hukum dan kepolisian. Sebagai satu-satunya pelindung hak milik yang berada di batas-batas kekuasannya—suatu peran yang dilanggengkan oleh negara melalui monopoli kekerasan—ia membangun kontrol yang konkrit dari setiap hak milik tersebut (cukup relatif, tentunya, menimbang kapasitas nyatanya untuk menerapkan kontrol tersebut). Dengan demikian perlindungan ini membutuhkan ongkos berupa pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya, juga penyesuaian diri pada peran-peran untuk menjalankan aparatus sosial yang melanggengkan negara dan menerima, dengan “sepenuh hati”, sebuah hubungan antara yang dimiliki (dirimu) dan yang memiliki (negara), yang dapat mengklaim setiap hak milik atau menutup setiap ruang publik demi alasan “kenyamanan bersama” kapanpun ia butuhkan. Keberadaan hak milik butuh negara untuk melindunginya dan keberadaan negara melanggengkan hak milik, oleh karena itu hak milik takkan eksis tanpa negara, seprivat apa pun konsep hak milik pribadi itu.

Kekerasan yang inheren di dalam hukum, polisi, dan militer—yang mana negara menggunakannya untuk melindungi hak milik—adalah juga institusi-institusi yang ia pakai untuk menjamin ketentraman sosial. Kekerasan ini, yang digunakan untuk mencerabut kita—kaum tak berpunya—dari kemampuan kita untuk mengkreasikan hidup adalah apa yang disebut sebagai perang sosial yang biasanya termanifestasikan sebagai pembantaian secara gradual (adakalanya secepat peluru polisi yang bersarang di tubuh) kaum tertindas atau mereka yang termarjinalisasi oleh tatanan sosial. Ketika orang-orang yang termarjinalkan ini mulai mengetahui musuh mereka, mereka akan melakukan serangan balik. Tugas negara untuk menjamin ketentraman sosial adalah suatu tindakan perang sosial yang dilancarkan oleh penguasa terhadap yang dikuasai—untuk mencegah adanya serangan balik dari kaum tertindas. Kekerasan yang dilancarkan oleh penguasa terhadap yang dikuasai merupakan sesuatu yang inheren dalam ketentraman sosial. Kendati demikian, ketentraman sosial yang diciptakan melalui disiplin yang brutal selalu bersifat tak menentu. Cukup penting bagi negara untuk membuat masyarakat percaya bahwa apa yang dilakukan negara terhadapnya diperlukan bagi kehidupan mereka, yang akan membuat mereka mendukung dan patuh pada eksistensi negara untuk menjaga tatanan sosial. Mirip dengan logika kekuasaan Mesir kuno ketika propaganda relijius, ketuhanan Faraoh, dimanfaatkan sebagai alat pemeras kaum tertindas untuk percaya bahwa setiap surplus yang dihasilkan merupakan milik dewa-dewa dan nasib kehidupan masyarakat selalu bergantung pada—meski dalam kondisi kelaparan—niat baik para dewa. Atau logika seperti ini akan mengambil bentuk institusi-institusi demokratis yang menciptakan bentuk pemerasan yang lebih subtil di mana kita diwajibkan untuk berpartisipasi bila kita mempunyai keluhan, yang mana kita harus selalu patuh pada “aspirasi masyarakat” ketika kita memang akan berpartisipasi. Kendati demikian, dibalik semua omongan manis “aspirasi masyarakat” dan “demokratisasi”, selalu terdapat tangan-tangan hukum, militer, dan polisi yang siap memaksa menggunakan kekerasan, dan inilah esensi sebenarnya dari negara dan ketentraman sosial. Selain dari itu semua, hanyalah lapisan-lapisan mukanya.

Meski negara dapat dipahami sebagai kapitalis (dalam pengertian bahwa negara mengakumulasikan kekuasan melalui akumulasi surplus kekayaan dalam proses dialektis), kapitalisme sebagaimana yang kita ketahui dengan institusi-institusi ekonominya adalah suatu perkembangan terbarunya yang dapat kita telusuri sejak era modern. Perkembangan ini memang telah membuat perubahan-perubahan signifikan dalam dinamika kekuasaan karena sejumlah besar kelas penguasa sekarang ini tidak secara langsung terlibat dalam aparatus negara, mereka dapat dilihat sebagi “warga negara” seperti halnya masyarakat yang mereka tindas. Namun perubahan-perubahan ini bukan berarti bahwa negara telah ditaklukan oleh berbagai institusi-institusi ekonomi global atau peran negara hanya menjadi peran yang feriferal dalam fungsi kekuasaan.

Apabila negara adalah kapitalis, dengan kepentingan ekonominya sendiri, maka alasannya untuk mempertahankan kapitalisme bukan karena ia telah disubordinasikan oleh institusi kapitalis lainnya, tapi karena ia harus mempertahankan kekuatan ekonominya sebagai kapitalis di antara kapitalis lainnya. Negara-negara kecil yang akhirnya disubordinasi oleh kapitalis global bernasib serupa dengan usaha-usaha kecil yang ditaklukan oleh usaha besar karena mereka tak punya kekuatan untuk terus melindungi dan mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka. Negara-negara maju memainkan peranannya untuk menentukan skema kebijakan ekonomi global sama halnya dengan korporasi-korporasi multinasional yang besar, dan justru melalui tangan negara kebijakan-kebijakan seperti ini dapat dijalankan.

Kekuatan negara bersandar pada monopoli kekerasannya yang bersifat legal dan institusional. Kekuatan ini adalah modal negara yang dibutuhkan oleh institusi-institusi ekonomi global. Institusi-institusi seperti Bank Dunia dan IMF tidak hanya melibatkan delegasi-delegasi yang berasal dari negara-negara maju untuk membuat keputusan, mereka juga membutuhkan kekuatan-kekuatan militer terkuat di antara berbagai negara maju tadi agar dapat menerapkan kebijakan mereka, suatu ancaman kekerasan fisik yang selalu berada di balik pemerasan ekonomi. Dengan kekuatan kekerasan di tangan mereka, negara-negara maju tidak berperan sebagai sekadar pelayan rejim multinasional. Justru, dalam logika kapitalis yang sebenarnya, hubungan-hubungan mutual dijalin untuk menjamin manfaat bagi setiap kapitalis.

Selain monopolinya atas kekerasan, negara juga mengontrol banyak jejaring dan institusi yang dibutuhkan bagi perdagangan dan produksi. Jalan tol, jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, satelit dan sistem-sistem yang dibutuhkan bagi jaringan komunikasi dan informasi, semuanya selalu dijalankan dan dimiliki oleh negara. Riset-riset teknologi dan penemuan ilmiah yang dibutuhkan bagi berkembangnya produksi sebagian besar, institusi pendidikan dan militer, dijalankan oleh negara.

Maka kekuatan korporasi juga bersandar pada kekuatan negara agar dapat menjamin eksistensinya. Semua ini tidak dapat dilihat sebagai satu kekuatan menaklukan kekuatan lainnya, tapi berkembangnya suatu sistem kekuasaan integral yang memanifestasikan dirinya sebagai monster berkepala dua: negara dan kapital, sebuah sistem yang berfungsi sebagai suatu keseluruhan untuk mendominasi dan mengeksploitasi, kondisi yang diciptakan oleh kelas penguasa untuk membuat kita tetap seperti ini—tak berpunya. Dalam konteks ini, institusi seperti IMF dan Bank Dunia, adalah alat di mana negara-negara maju dan korporasi multinasional mengkoordinasi aktivitas mereka guna menjaga persatuan para pendominasi terhadap kaum tertindas di tengah iklim kompetisi kepentingan ekonomi dan politik. Oleh karenanya negara bukanlah pelayan institusi-institusi seperti ini, tapi institusi-institusi ini yang melayani kepentingan negara-negara maju dan korporasi besar.

Oleh karena itu, sangat tidak mungkin untuk menghancurkan tatanan sosial dengan menggunakan negara-nasion sebagai alat melawan kapitalis. Kepentingan-kepentingan mereka sama, yaitu untuk mempertahankan apa yang ada sekarang. Tugas kita, adalah untuk menyerang dua kekuatan ini semampu kita, dengan memaknai mereka sebagai monster berkepala dua: dominasi dan eksploitasi, yang harus dihancurkan apabila kita ingin merebut kembali kapasitas kita untuk mengkreasikan kondisi hidup yang kita inginkan.

Read More......

Selasa, 14 Oktober 2008

BAYANGAN MASA LALU MENAWAN MASA DEPAN

"A match used to show off like this:
I'm able to set a barn on fire! I can set fire to a petrol tank,
the seat of a ministry, an Etruscan museum, whatever!
Why not just say you're able to light the gas and boil the soup?
We always show off about the worst things.”
—Gianni Rodari: Minimal Fables


Di Indonesia, kita hanya mengenal dua jenis musim: hujan dan kemarau. Begitu juga dengan sejarahnya, penuh dengan kemarau yang lantas dibabat hujan—menetes hingga ke sela-sela, merasuk bahkan memporak-poranda. Kemarau dan hujan, musim yang kadang menguntungkan kadang juga mengenaskan. Tapi di Italia, bagian dari benua Eropa yang terapit di antara Libya dan Yugoslavia, mengenal berbagai macam musim. Musim di mana para pekerja dan aktivis turun ke jalan untuk mengguncang kekuasaan politik. Musim di mana kobaran api perlawanan membuncah di dalam hati para insurgen-insurgen Italia. Antara jangka waktu 2000-2002, gerakan insurgen Italia dimetaforkan dengan nama sebuah musim. Ini adalah la Primavera dei Movimenti atau The Springtime Movements, atau dalam bahasa Indonesianya adalah gerakan musim semi. Bukan pertama kalinya sejarah perlawanan Italia menganugerahkan nama musim pada gerakannya. Di tahun 1969, yang menjadi tahun perjuangan pekerja pabrik yang terbesar di Italia, mengambil nama Autunno Caldo (Hot Autumn) atau gerakan musim gugur yang panas. Sepanas keringat kerja, sepanas hati dari kondisi sosial yang memiskinkan. Maka, seiring musim gugur berganti, mitos-mitos dari semangat perlawanan generasi lalu ini dapat mempercerah lahirnya musim semi, cahaya-cahaya perlawanan yang semakin membesar, menyebar bagai virus yang menghidupkan. Karena bantuan sebuah cerita, sebuah mitos, sebuah dongeng akan kebebasan. Suatu masa di satu musim, di mana semangat akan perubahan sosial berkobar bagai api di jalan-jalan Genoa.


Konflik sosial adalah sesuatu yang endemik dan alami. Karenanya penggunaan metafor musim adalah juga sesuatu yang menghidupkan dan sesuai. Musim kemarau di Indonesia adalah musim yang mematikan dan tidak menyalakan, karena bahasa kita menginginkannya seperti itu. Musim kemarau selalu menjadi cerita-cerita sedih realitas: PHK buruh, kemelaratan, kekeringan, dan kekerasan-kekerasan sosial lainnya. Seakan-akan realitas sosial selalu menjadi syair Wiji Thukul yang mendendam karena kemelaratan yang dialaminya. Orang-orang yang tergabung di dalam partai revolusioner pun memiliki cerminan seperti ini. Berteriak-teriak di depan megafon di bawah terik mentari demi menyuarakan ketertindasan rakyat, kemelaratan orang miskin, sebuah ketidakberdayaan sosial. Tapi drama-drama sedih perlawanan ini semakin memanaskan musim kemarau; mengeringkannya, melelahkannya, di tengah cerita ketidakberdayaan. Sinar mentari itu melemaskan di kala tengah hari. Karena itu kita butuh segelas air dingin bukannya cerita melankolis ketidakmampuan. Satu poin dari konsep manipulatif bunuh diri kelas adalah kepatuhan. Oleh karena itu, pasifitas justru menjadi pemerkuat konsep ideologis ini. Di mana nyala obor dipegang oleh elit-elit revolusioner, sementara yang lain hanya mengikuti dari belakang dalam gelapnya kepatuhan. Lantunan lagu Darah Juang seperti menceritakan kisah menyedihkan sebuah perjuangan.

Seberapa sering api resistensi dan amarah ditelan konsep-konsep buta kita akan kedamaian, tata-krama, dan kesenyapan sosial? Seiring bergantinya musim, hari demi hari, dari musim ke musim kita selalu melebur di dalam bahasa yang melemahkan kita sendiri. Bahasa yang tidak berjiwa besar, bahasa bangsa Timur, bahasa berkasta sudra. Tahun 1965 dan peristiwa PKI, sebuah rentetan pembantaian hingga penghujung abad 20 demi memperkuat jaring-jaring neoliberalisme. Seberapa sering kita dibungkam oleh ketakutan, oleh penguasa, oleh diri kita sendiri. Oleh cerita-cerita paranoia terhadap kekuasaan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Oleh konstruksi sosial yang menolak menerima bahwa perlawanan harus bersemi dan kontradiksi harus ditajamkan. Tahun 1998 dan perjuangan berdarah para aktivisnya malah dianugerahi sebagai tragedi. Dan klimaksnya diagungkan sebagai kemenangan demokrasi, yang sebenarnya hanya klimaks dari oposisi-oposisi kekuasaan politik dalam memanipulasi reformasi. Musim hujan yang terlalu diperbuas sebagai kisah romantis heroisme beberapa invididu: kisah sukses reformasi adalah cerita kemenangan para mahasiswa yang kemudian menjadi berdasi setelah teriak-teriak di depan megafon atas nama rakyat. Dan cerita perlawanan pun menjadi sekedar sebuah monumen, sebuah dongeng imajinatif yang buruk, yang ditulis oleh seorang pope.

Yang kita butuhkan sekarang ini adalah sebuah mythopoesis: proses sosial dalam membangun mitos. Yang dimaksud di sini bukannya membuat cerita palsu, tapi cerita yang telah terjadi dan disebarkan, diberitahukan kembali dalam metafora, yang dilakukan oleh berbagai macam komunitas yang luas. Cerita yang mungkin saja dapat melahirkan semacam ritual, semacam semangat akan keberlanjutan dari apa yang kita lakukan sekarang dan apa yang telah dilakukan kemarin. Sebuah tradisi. Yang dalam kata latinnya adalah tradere dan dalam artian bahasa Indonesianya berarti mewariskan sesuatu. Sebuah tradisi yang tidak mengindikasikan adanya kebertetapan, konservatisme, ataupun sebuah respek masa lalu yang dilebih-lebihkan. Tapi tradisi yang mewarisi semangat keberlanjutan akan perlawanan, cerita indah hidupnya kembali resistensi.

Mythopoesis yang dimaksud di sini bukanlah sebuah pengagung-agungan akan masa-masa yang sudah lalu. Bukan pula keinginan buta para kaum Kiri yang ingin menghidupkan kembali mayat Lenin. Pun bukan romantisme para anarkis yang menulis biografi menakjubkan dari Emma Goldman ataupun Bakunin. Mythopoesis bukanlah cerita imajiner yang menghidupkan masa lalu dan melemahkan masa sekarang. Sebaliknya, Mythopoesis adalah cerita dari musim ke musim yang berniat membangkitkan musim yang selanjutnya.

Ini adalah alasan vital mengapa kita butuh Mythopoesis. Kita hidup bersama dengan bercerita dan mendengarkan cerita. Bahasa sehari-hari kita, ingatan kita, imajinasi kita dan kebutuhan kita yang mendalam akan membangun komunitas adalah alasan yang membuat kita merasa menjadi manusia yang hidup. Kita butuh mitos: kita butuh mitos tanpa pahlawan yang harus diikuti ataupun ditolak. Kita butuh mereka untuk membentuk diri kita sendiri, perlawanan kita sendiri.


"Beneath the sentence there are no heroesis hidden a different meaning, its true message: there was no struggle[...] Can you make a film about a struggle without going through the traditional process of creating heroes? It's a new form of an old problem.”
—Michael Foucault, On interview


Post-mortem

Kemarin, perjuangan reformasi menunda pembukaan jalan bagi perubahan sosial yang mendasar. Teriakan-teriakan revolusi sampai mati tidak lebih sekedar lagu penyemangat bagi agenda-agenda kabur reformasi. Mahasiswa-mahasiswa Kiri yang terlalu banyak menggunakan megafon, aktifis-aktifis revolusioner yang ngomong sampah soal kepemimpinan, dan birokrat-birokrat politik yang selalu menjual nama rakyat. Kita berada di bawah kerudung budaya mati. Kita mewariskan sampah dari generasi ke generasi. Dan mitos-mitos perjuangan masih berkeliling di sekitar pahlawan-pahlawan Diponegoro reformasi. Gerakan 98 sudah bertahun-tahun mati, dan kenapa juga sebagian besar dari kita, masih menginginkannya untuk hidup kembali?

Apabila di Italia, setahun seorang aktivis anti-globalisasi, Carlo Giuliani, yang terbunuh oleh polisi diperingati sebagai hari di mana gerakan anti-neoliberalisme di Genoa semakin menguat, mengapa kita harus bersedih-sedih dengan perayaan tangis-menangis Tragedi Mei 98? Media, pemerintah, bahkan militer berlagak menyesali semuanya, dan silahturahmi saling memaafkan pun terjadi, seakan-akan konflik sosial ini hanya masalah remeh salah paham keluarga. Para mahasiswa yang beremblem radikal atau revolusioner pun memaklumi ini semua. Layaknya kalau permasalahan konflik kelas dapat diselesaikan di hari Lebaran.
Apa warisan yang kita dapat dari perjuangan generasi lalu, warisan yang dapat kita adaptasikan dengan kondisi kita sekarang, setelah berbagai tahun-tahun mati yang tidak bergelora, apa yang kita dapat selain hanya fetisisme mahasiwa dan figur-figur heroik semacam Munir, Aung san Su Kyi, bahkan Harry Roesli. Faktanya adalah bahwa 98 dan mitosnya tidak membawa kita kemana-mana, selain puji-puijan berlebihan terhadap momen tersebut.

Di bawah tanah, kultur punk merebak dengan anarkisme. Kolektif demi kolektif bermunculan dan mati tanpa agenda yang benar-benar jelas. Bentuk sporadik yang gagal membangun komunikasi antar scene dan mati tanpa ada perspektif yang jelas. Kolektif anarkis yang masih mempraktekkan dominasi, scene hc/punk yang feodal, dan mahasiwa-mahasiswa revolusioner ala Che Guevara. Kita belum beranjak dari ini semua, kita masih dihantui tradisi lama, kita belum mengerti untuk memisahkan air yang bersih dan yang kotor.

Sebuah idiom berbunyi, Sementara kita membuang bekas air mandinya kita tidak seharusnya membuang bayinya juga.

Mythopoesis berhubungan dengan ini, karena cerita mitos yang baik tidaklah dibentuk dari penerimaan terus-menerus tradisi sebelumnya. Kita butuh cerita mereka untuk didekonstruksikan. Kita membutuhkan penciptaan musim di mana konlik sosial yang vertikal mulai menajam. Kita perlu meninggalkan masa lalu.

Ikonofilia adalah penyakitnya

Apabila perjuangan kemarin telah tergantikan dengan menyuburnya LSM-LSM, apabila seniman radikal hanyalah para pelukis realisme sosialis yang cuma doyan jualan lukisan, apabila gerakan revolusioner hanya berkutat di sekitar PRD (yang Marxis-Leninis) dan mahasiswanya, apabila dominasi kolektif dan imaji otonomi hanya terus-menerus berada di sebuah nama Kontra-Kultura, maka, seperti yang dikatakan oleh Raoul Vaneigem, harapan terakhir dari para penguasa adalah membuat semua orang menjadi pengorganisir ketidakberdayaan diri mereka sendiri.

Hari kemarin, musim yang lalu, sepuluh tahun lewat, berabad lalu kita hidup dan berkembang di dalam kontradiksi. Kita menuai dan layu terbantai, kita berada di ujung senapan dan pedang atau berakhir di kuburan, mungkin juga sungai-sungai dan perkantoran. Tapi kini, baru saja kemarin aku dan kamu saling menukar media bawah tanah yang kita produksi sendiri. Baru kemarin kita berada di pinggir jalanan berbagi teori Marx sampai anarkisme Berkman. Baru kemarin kita meninggalkan nilai-nilai orang tua dan menolak Tuhan, rasanya seminggu lalu aku dan kamu masih sering ngobrol soal neoliberalisme. Waktu itu kita masih mau saja ikut-ikutan demo di bawah bendera merah dan dimarahi oleh koordinator aksi karena kamu keluar dari tali dan saya ikut-ikutan. Baru kemarin kita berdua terpergok di kamar bersama semalaman dan dituduh kumpul kebo. Kemarin kamu bilang kalau kamu terlalu sibuk dengan kerja dan setahun sebelumnya kamu hampir drop-out dari kuliah. Di subuh yang hujan pada waktu itu kita berlima pergi ke pasar ngelobi sayur murah buat Food Not Bombs. Beberapa dari kalian bahkan lari dan meninggalkan gedung kosong tempat kita tidur dan berdiskusi setelah diserang polisi. Dan sekarang kita tercerai berai tanpa ada benang yang mengikat. Di mana cerita-cerita kita, sudahkah tertelan oleh ganasnya musim panas? Sudahkah kita berhenti untuk menulis cerita, menentang penguasa, melecehkan hierarki, menghancurkan konstruksi sosial yang membunuh hasrat kita?

Cerita-cerita kita belum lagi muncul ke permukaan, kawan. Banyak isu bahwa kita telah porak-poranda oleh ide kita sendiri, bahwa kita tidak mampu memecahkan problem hubungan interpersonal kita sendiri, bahwa kita takut akan kontradiksi internal. Faktanya, kita kembali menjadi penonton. Kita telah membenam dalam bahasa dan takjub oleh spektakulernya dunia tontonan. Kita telah membenam sementara militer membantai lagi, kita terus diam dan media mainstream mulai berbicara, memanipulasi. Kita berada di balik kaca kendaraan bermotor yang berbeda dan BBM naik kembali. Mereka melakukan liberalisasi dan merayakan globalisasi dan kita terus tercerai-berai berdiam diri.

Kawan, di beberapa kota di Italia, para aktivis membangun social-center di mana-mana. Mereka bahkan membuat dewan kota melegalkan keberadaan mereka. Tapi ini pun bukanlah sebuah kondisi yang damai. Serangan dari fasis dan polisi masih sering terjadi, dan para aktivis masih sering menghadapi tuntutan pengadilan. Di Montreal, Critical-Mass memenuhi jalanan dan menghentikan lalu lintas kendaraan bermotor, walau hanya dalam rentang waktu yang sementara. Di Chiapas, para pejuang bertopeng, Zapatista, membangun demokrasi langsung dan terang-terangan memerangi neoliberalisme. Di berbagai kapital di dunia, mitos perlawanan mulai bersemi, meramu cerita bagi generasi selanjutnya agar mereka dapat menulis cerita mereka sendiri.

Air dan angin dari konflik sosial telah membawa kita ke banyak pengalaman dan contoh. Di antara pasir dan batu masih banyak bongkah emas masih yang bisa digali. Cerita adalah sekop. Begitulah seharusnya kita menggunakannya. Tapi juga bukan sekedar membuatnya sekedar cerita. Karena, yang dimaksud dengan cerita, pembuatan mitos, adalah sesuatu yang jelas, yang dibuat dari darah, daging, dan kotoran.

Read More......

Senin, 13 Oktober 2008

HARGA UNTUK BERTAHAN HIDUP

Segala sesuatu mempunyai harga, ukuran nilai dalam suatu kuantitas yang menentukan sifat umum equivalensi. Tak ada satu pun yang punya nilai dalam dirinya. Setiap nilai ditentukan melalui hubungannya dengan pasar—dan ini termasuk juga nilai hidup kita, dan diri kita. Hidup kita telah dipisah menjadi unit-unit waktu yang telah ditentukan dan kita diharuskan untuk menjualnya agar dapat membeli kemampuan untuk bertahan hidup. Kita membelinya dalam bentuk benda-benda yang di dalamnya juga tersimpan energi dan hidup orang lain—yang telah dicuri—untuk diubah menjadi menjadi komoditas yang dapat dijual. Inilah realita ekonomi hari ini.

Alienasi yang hebat ini memiliki basisnya pada tiga institusi masyarakat yang saling berhubungan: hak milik pribadi, perdagangan komoditas, dan kerja. Hubungan yang integral dari tiga sistem ini menciptakan sistem yang digunakan kelas penguasa untuk mendapatkan kekayaan yang sangat diperlukan, untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Di sini yang saya maksudkan adalah sistem ekonomi.


Tatanan sosial dominasi dan eksploitasi berasal dari alienasi sosial yang mendasar, asal-usulnya merupakan persoalan sedikit spekulasi yang cukup sulit, tapi sifat alaminya cukup jelas. Beragam latar belakang masyarakat dirampas kemampuannya untuk mengkreasikan hidup mereka sendiri, untuk menciptakan kondisi hidup yang mereka inginkan, agar segelintir orang yang berada di atas dapat mengakumulasikan kekuasaan dan kekayaan dan merubah keseluruhan eksistensi sosial menjadi pelayan kepentingan mereka. Agar semua ini dapat terjadi, kemampuan masyarakat untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan, aspirasi serta impian mereka, harus dirampas. Semua ini dapat terjadi dengan ditutupnya beberapa ruang dan menimbun benda-benda agar tidak dapat diakses oleh orang banyak. Namun penimbunan dan penutupan seperti ini hanya dapat berlaku ketika ada orang-orang yang menjaga hal-hal tersebut untuk diakses publik—suatu kekuatan yang menjamin agar orang-orang tak mengambil apa pun yang menjadi milik mereka tanpa izin. Dengan cara akumulasi seperti ini, cukup logis bagi kekuasaan menciptakan aparatus untuk melindunginya. Ketika sistem seperti ini telah tercipta dan berkembang, mayoritas berada dalam posisi untuk terus menggantungkan dirinya pada segelintir orang yang bertanggungjawab merampas kekayaan dan kekuasaan tersebut.

Untuk mengakses kekayaan tersebut masyarakat harus menjual porsi besar dari yang mereka hasilkan melalui bekerja. Maka, sebagian aktivitas yang mereka lakukan sekarang telah diambilalih oleh penguasa mereka sebagai jaminan mereka untuk bertahan hidup.

Ketika kekuasaan yang dimiliki oleh segelintir orang mulai meningkat, mereka akan lebih jauh mengontrol hasil kerja dan sumberdaya sehingga, pada akhirnya, aktivitas orang-orang yang dieksploitasi ini menjadi sekadar kerja untuk menghasilkan komoditas agar dapat ditukarkan dengan gaji yang akan mereka gunakan untuk membeli kembali komoditas (yang mereka ciptakan). Memang, pengembangan penuh cara seperti ini berjalan cukup lambat dikarenakan terjadinya penolakan di setiap tempat. Masih terdapat sebagian tempat dalam dunia dan kehidupan yang belum dikuasai oleh negara dan ekonominya, tapi hampir semua eksistensi kita telah dipasangi harga, dan harganya semakin meningkat secara geometris selama sepuluh ribu tahun.

Jadi, negara dan ekonomi bangkit bersamaan sebagai aspek alienasi seperti yang dijelaskan di atas. Mereka menciptakan monster berkepala dua yang menciptakan pemiskinan hidup kita, yang mana hidup kita diubah menjadi sekadar perjuangan untuk bertahan hidup. Hal yang sama terjadi di negara-negara kaya seperti halnya di negara-negara miskin yang didominasi oleh kekuatan kapitalis yang lebih besar. Apa yang membuat hidup menjadi sekadar bertahan hidup bukanlah karena kita tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan dan keinginan kita, tapi karena kita menyerahkan energi kita pada proyek yang tidak kita pilih, pada proyek yang hanya menguntungkan orang lain yang selalu mengatur apa yang harus kita lakukan, demi mendapatkan kompensasi tak layak untuk membeli kebutuhan dan kenikmatan yang tak ada artinya—inilah yang dimaksudkan “sekadar” bertahan hidup. Tak peduli seberapa banyak yang mampu kamu beli. Hidup bukanlah sebuah akumulasi benda-benda, melainkan suatu hubungan yang kualitatif dengan dunia.

Penjualan hidup yang dipaksakan ini, perbudakan-upah ini, mereduksi hidup menjadi komoditi—sebuah eksistensi yang terpisah menjadi barang-barang yang telah diukur nilainya yang dijual dalam potongan-potongan benda. Sudah pasti bahwa, pekerja yang selama ini telah diperas untuk menjual hidupnya, akan merasa bahwa upah mereka selalu tidak cukup. Bagaimana bisa mencukupinya, ketika apa yang telah dihilangkan dan dirampas tidak sebanding dengan barang-barang atau upah per bulan (untuk membeli barang-barang tersebut), karena yang hilang adalah kualitas hidup yang takkan pernah cukup atau dapat ditutupi dengan barang-barang mati. Dalam sebuah dunia di mana hidup harus dijual agar dapat bertahan hidup, ketika segala sesuatu yang hidup—alam dan segala isinya—menjadi sekadar barang-barang yang dapat diperjualbelikan dan dieksploitasi, nilai dalam hidup menjadi angka-angka, ukuran-ukuran, dan ukuran tersebut dilabeli dengan nama-nama seperti Dollar, Rupiah, Peso, atau Yen—dalam bentuk uangnya. Tapi, tak peduli seberapa besar jumlah uang, seberapa banyak barang-barang yang dapat dibeli oleh uang, (benda mati) tak dapat memenuhi kekosongan eksistensi. Karena pada kenyataannya, penilaian seperti itu hanya dapat dilakukan dengan menenggelamkan setiap kualitas, energi, dan keajaiban hidup.

Perjuangan untuk melawan kuasa ekonomi—yang harus bersahutan dengan perjuangan melawan negara—harus dimulai dengan penolakan terhadap kuantifikasi eksistensi yang terjadi ketika kita membiarkan hidup kita dirampas dari kita. Perjuangan ini adalah perjuangan untuk menghancurkan institusi-institusi yang melindungi hak-milik pribadi, perdagangan komoditas dan kerja—bukan untuk menggantikannya dengan institusi lainnya yang berwajah lebih manis, tapi agar kita dapat merebut kembali hidup kita dan mengkreasikannya menurut cita-cita, impian, kebutuhan, dan aspirasi kita di dalam keistimewaannya yang tak dapat diukur.

Read More......

BIOGRAFI ERRICO MALATESTA

Biografi
Lahir : Santa Maria Capus Vetera, Italia, 14 Desember 1853
Meninggal : Roma, Italia, 22 Juli 1932
• 1853 - Lahir di Provinsi Caserta Province, Selatan Italia.
• 1867 - Pada umur 14, Malatesta ditangkap karena menulis surat kepada Raja Victor Emmanuel II yang berisi kecaman atas ketidakadilan yang terjadi di daerahnya.
• 1871 - Setelah dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena bergabung dalam sebuah demonstrasi, Malatesta menjadi anggota organisasi Internasionale untuk bagian Italia. Ia juga melatih diri sebagai mekanik dan tukang listrik.
• 1872 - Bertemu Bakunin di Swis.


• 1877 - Bersama sahabat-sahabat anarkisnya, Andrea Costa dan Carlo Cafiero, Ia memimpin massa bersenjata menuju dua desa di Campania, di sana mereka membakar catatan pajak dan mengumumkan diakhirinya rejim Victor Emmanuel. Warga dua desa itu menyambut mereka namun menolak untuk bergabung dalam insureksi. bersamaan dengan kedatangan pasukan keamanan, kelompok itu kemudian cerai berai.
• 1878 - Malatesta meninggalkan Italia untuk mengunjungi seorang kawannya di Mesir. Pemerintah Italia dengan cepat mengambil langkah agar ia tak dapat kembali. Ia menuju Geneva, di mana Ia kemudian bersahabat dengan Kropotkin dan Elisée Reclus. Dipaksa meninggalkan negeri itu, beberapa bulan kemudian, ia mengunjungi Rumania dan Paris.
• 1881 - Malatesta menetap di London.
• 1883 - Kembali ke Italia, Ia menulis pamplet yang tersebar luas di kalangan petani. Di dalam tulisannya, ia mendukung anarko-komunisme.
• 1884-5 - Mengunjungi Florence, membantu korban Kolera di Naples. Ia ditahan dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena berbagai tulisannya. Ia membayar jaminan dan pergi berlayar ke Buenos Aires, Argentina. Di daerah itu ia menghabiskan 4 tahun masa hidupnya, menyebarkan ide anarkis di antara imigran Italia.
• 1889 - Kembali ke London.
• 1891 - Menerbitkan pamlet penting dan berpengaruh berjudul Anarki dan mengunjungi Spanyol selama pemberontakan Jerez.
• 1892-3 - Menyaksikan pemogokan umum untuk hak memilih di Belgia dan segera mengenali batas dari teknik ini.
• 1896 - Mengorganisir Kongres London bagi Internationale kedua.
• 1897 - Malatesta kembali dengan diam-diam ke Italia, di mana dia mengedit terbitan anarkis L'Agitazione. Selama waktu ini, kenaikan harga dan kegagalan panen mengakibatkan pemberontakan petani.
• 1898 - Dia ditangkap di kota Ancona setelah kerusuhan di daerah itu, dan dikenakan sangkaan "melakukan kesepakatan kriminal". Karena diputuskan memiliki hubungan dengan A Seditious Organization, Malatesta dihukum pembuangan ke pulau Lampedusa.
• 1899 - Ia melarikan diri dengan perahu selama terjadinya badai dan kembali ke London. Dari sana ia kemudian menuju Amerika Serikat, bersua dengan kelompok anarkis Italia dan Spanyol di New Jersey. Dalam sebuah diskusi yang memanas pada suatu pertemuan kaum anarkis, ia terkena tembakan dikaki.
• 1900 - Malatesta kembali ke London. Menyusul terbunuhnya Raja Umberto oleh seorang Anarkis Italia dari New Jersey, Malatesta diawasi ketat oleh Kepolisian Inggris.
• 1907 - Ia menghadiri konferensi anarkis internasional di Amsterdam, Belanda. Di sana juga hadir Emma Goldman dan Rudolf Rocker.
• 1909 - Ia dan Rudolf Rocker dipenjara untuk tiga bulan dengan dakwaan of criminal libel. Dipertimbangkan untuk dideportasi, namun usaha itu ditangguhkan setelah para pendukungnya mengorganisir sebuah demonstrasi di Trafalgar Square.
• 1910 - Malatesta dicurigai terlibat dalam pembunuhan Houndsditch. Tiga orang polisi tertembak saat terjadi perampokan perhiasan di London East End. Para pencuri menggali lubang dari rumah kosong di sebelah. Sebuah pencarian menemukan sebuah kartu dengan nama Malatesta di dalamnya. Penyelidikan menyebutkan, bahwa beberapa bulan sebelum kejadian, salah seorang pencuri mengadakan hubungan dengan sebuah kelompok anarkis di daerah itu, claiming to be an out-of-work mechanic. Ia diperkenalkan kepada Malatesta, yang saat itu bekerja sebagai mekanik. Malatesta memberinya kartu namanya sebagai pengantar ke peyediaan perlengkapan. Sang pencuri memakai kartu itu untuk membeli peralatan (termasuk a welding torch) yang kemudian digunakan dalam perampokan. Malatesta dinyatakan tidak bersalah dan para pencuri terbunuh dalam penyerbuan polisi ke tempat persembunyian mereka.
• 1913 - Ia kembali ke Italia untuk mengambil bagian dalam renacna demonstrasi anti-clerical dan anti-parlemen di kota Ancona.
• 1914 - Sebuah demonstrasi tercetus saat dua demonstran dibunuh oleh polisi di Ancona. Dikenal sebagai "minggu merah", pasukan tentara di daerah itu bersahabat dengan para pengunjukrasa sementara Malatesta dan para sahabat anarkisnya berupaya mengorganisir sebuah perlawanan melawan pemerintahan. Rencana mereka berantakan saat Konfederasi Umum Pekerja (yang mengendalikan kebanyakan serikat pekerja di Italia) menyerukan penghentian pemogokan. Malatesta kembali ke London.
• 1919 - Malatesta kembali ke Italia, di mana ia memulai sebuah surat kabar harian pertama anarkis, Umanità Nova. Waktu itu, Italia memasuki masa pergolakan pra kebangkitan kekuasaan Diktator Fasis Mussolini.
• 1920 - (Oktober) Ia menyerukan pekerja mogok dan mengambilalih pabrik. Pekerja Baja di Milan dan Turin berbuat demikian. Pemogokan lain menyusul, namun Partai Sosialis dan Konfederasi Umum Pekerja berupaya meyakinkan pekerja untuk mengakhiri pemogokan. Malatesta bersama 81 anarkis lain ditangkap.
• 1921 - (Juli) Malatesta menjalankan aksi nogok makan sebagai protes karena belum juga dibawa ke pengadilan. Ia diputuskan tidak bersalah dan dibebaskan, dua bulan sebelum kaum fasis mengambilalih kekuasaan.
• 1924-6 - Walau mendapat perlakuan sewenang-wenang dan penyensoran, Malatesta menerbitkan jurnal Pensiero e Volontà tahun 1926. Mussolini membungkam semua pers independen.
• 1932 - Malatesta meninggal.

Read More......

ANARKISME DAN PENJARAHAN PASCA BENCANA NEW ORLEANS (Bag. Dua)

Harapan kami hanya dapat lahir dari mereka yang tak memiliki harapan
—Grafiti di tembok kota Paris saat revolusi 1968

Kurang dari setengah mil, di New Orleans Convention Center, Sadique Jabbar menyantap sarapan pertamanya Jumat ini dengan sebungkus Cheetos yang seseorang berikan padanya sekitar pukul 11 AM. Kalian tahu bagaimana aku bisa mendapatkan makanan? Ujar Jabbar, Beberapa orang yang kabur dari penjara menjebol ke dalam beberapa gedung, mengumpulkan makanan untuk kami dan membawanya kemari.
—Koran San Fransisco Chronicle, 3 September 2005


Seperti yang pernah kami tulis dalam artikel awal kami, memang sesungguhnya selalu ada harapan yang muncul dari ketiadaan harapan. New Orleans, adalah sebuah daerah di Amerika Serikat yang dianggap paling dekaden karena angka kemiskinan yang sangat tinggi sebanding dengan angka kriminalitas dan dihuni oleh mayoritas penduduk kulit hitam. Ini juga menjadi salah satu lokasi yang dihantam badai Katrina dan dibiarkan luluh lantak tanpa bantuan sama sekali dari pemerintah. Salah satu kasus di mana pemerintah secara sistematik melakukan genosida terhadap kaum kulit hitam yang walaupun perbudakaan secara resmi telah dihapuskan, tetapi mereka tetap ditempatkan sebagai warga negara kelas dua.

Pupusnya Harapan Terakhir

Lebih banyak korban meninggal daripada tragedi WTC 11 September. Tapi bahkan tak ada liputan media besar-besaran dan perhatian publik yang layak. Juga tak ada pengibaran bendera setengah tiang tanda berkabung. Media massa resmi hanya melaporkan kasus penjarahan, perampokan dan pemerkosaan. Tak ada liputan khusus mengenai bagaimana para pengungsi kulit hitam yang ditampung di Superdome dibiarkan sendiri tanpa bantuan air bersih, makanan dan toilet yang memadai, sementara polisi bersenjata menjaga di luar Superdome untuk mencegah para pengungsi keluar dari lokasi penampungan.

Juga tak ada liputan mengenai bagaimana jembatan utama yang dapat digunakan untuk meninggalkan kota yang luluh lantak akibat bencana, dijaga ketat oleh polisi bersenjata api. Mereka ditugaskan untuk mencegah mereka yang selamat agar dapat keluar dari New Orleans. Ada sebuah password bagi para polisi yang menjaga jembatan, bila engkau miskin dan berkulit hitam, maka engkau dilarang menyeberangi sungai Mississippi dan tak diperbolehkan keluar dari New Orleans. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky)

Tak ada liputan juga mengenai bagaimana Palang Merah dilarang secara resmi untuk memasuki lokasi bencana. Departemen Pertahanan Dalam Negeri negara telah meminta dan terus meminta agar Palang Merah Amerika tidak kembali lagi ke New Orleans. Kehadiran kami dianggap hanya akan mendorong orang untuk melakukan evakuasi dan mendorong bantuan lain untuk datang ke kota tersebut. (situs resmi Palang Merah Amerika)

Banyak orang muda kehilangan akal karena beberapa helikopter terus menerus terbang di atas kami dan tak mau berhenti sama sekali. Kami berdiri di tempat terbuka, melakukan sinyal SOS, kami melakukan segalanya. Hingga sampai pada satu titik, di mana anak-anak muda tersebut benar-benar frustasi sehingga mereka mulai menembakkan senapannya ke udara. Mereka tidak menembak helikopter seperti yang diberitakan oleh media. Mereka menembak dengan harapan pilot helikopter melihat mereka. Tetapi itu juga tidak membantu sama sekali. Tak ada satu pun helikopter yang membantu kami. (dari transkript interview video dengan Neville)

Hadirnya Bibit Harapan akan Dunia Baru

Di sebuah lokasi di French Quarter, dataran tinggi kota New Orleans yang tak terendam air, dua orang paramedis lokal membangun hotel sebagai rumah sakit dan pusat komunitas. Kami membentuk sebuah tempat yang diprioritaskan bagi yang sakit, manula dan bayi-bayi yang belum lama lahir. Kami saling bantu membantu agar kami semua bisa dapat tetap bertahan hidup di sini, karena bantuan yang dijanjikan oleh negara federal, pusat dan institusi lokal tak pernah termaterialkan sama sekali. Kami harus mulai belajar untuk bekerjasama tanpa membutuhkan campur tangan pemerintah. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky)

Sadar dalam ketiadaan informasi dan asistensi dari luar, kelompok-kelompok baik yang kaya maupun miskin saling bergabung bersama di French Quarter, sebuah tempat di dataran tinggi New Orleans yang tidak terendam air, membentuk kelompok tribal mereka sendiri dan membagi-bagi pekerjaan yang harus dilakukan untuk dapat bersama bertahan hidup.

Beberapa turun ke sungai untuk mencuci di saat yang lainnya menjaga peralatan dan tempat tinggal mereka. Dalam sebuah bar, seorang bartender berusaha keras dan dengan hasil yang nyaris sempurna beralih peran menjadi seorang dokter.

Saat kekerasan antar mereka yang bertahan hidup dan alienasi justru semakin menjadi-jadi, di kota yang nyaris terlupakan ini, sesuatu justru lahir di tengah-tengah lingkungan penduduk yang sebelumnya adalah tempat paling dekaden di Amerika Serikat: kemanusiaan.

Membangun tempat tinggalnya di antara bangunan-bangunan yang telah ditinggalkan di daerah-daerah dataran tinggi dan diperlengkapi dengan sambungan listrik bawah tanah yang masih berfungsi, para penduduk yang ditinggalkan tanpa penyelamatan menganggap tempat-tempat tersebut sebagai tempat paling aman yang bisa didapatkan.

Bahkan tempat-tempat tersebut menjadi jauh lebih baik daripada mereka yang pergi menyelamatkan diri dan dibiarkan hidup berdesakan tanpa bantuan yang layak seperti air bersih dan listrik di tempat penampungan resmi pemerintah seperti Superdome dan Convention Center.

Para penduduk yang ditinggalkan dan diabaikan tanpa dikirimi bantuan, yang kemudian membangun sendiri komunitas dari mereka yang selamat tanpa mengharapkan lagi bantuan apa pun dari pemerintah ataupun badan bantuan resmi lainnya, adalah contoh terbaik di mana publik dapat bekerja sama tanpa instruksi atasan ataupun para spesialis dan intelektual.

Yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah bar bernama Johnny White, yang terkenal tak pernah tutup, bahkan setelah badai, tetap tak mau mengunci pintunya. Hanya saja, ada sebuah transformasi pasca bencana. Ia tak lagi menjadi sekedar bar. Di antara bir hangat, bartender menyediakan biskuit-biskuit dan air mineral bagi siapapun yang dapat membantu para pengusahanya untuk bekerja sama membangun komunitas di antara reruntuhan dan kekacauan.

Ia menjadi semacam pusat kegiatan komunitas, yang bagi beberapa lainnya ia adalah juga berfungsi sebagai rumah sakit. Semua orang saling bantu, menyediakan jasa mereka secara gratis dan sukarela. 12 orang menjalankan pusat komunitas Johnny White dengan baik dan teratur walaupun tak memiliki pemimpin. Kelompok tribal tersebut terdiri dari seorang dokter, kasir dan seorang pedagang. Mereka saling bertukar pikiran tentang pengembangan taktik bertahan hidup bersama orang-orang lainnya dalam kelompok mereka.

Saat pada akhirnya ada sebuah bus yang dikirimkan oleh lembaga bantuan internasional dan menawari kelompok tersebut untuk pergi, hanya empat orang anggota kelompok tribal tersebut yang memilih untuk pergi. Sisanya memilih untuk tetap tinggal dan terus membangun komunitasnya.

Seperti apa yang dikatakan oleh seorang anggota kelompok tersebut, Mark Rowland, “Hatiku akan sangat hancur apabila harus meninggalkan tempat yang kucintai ini. Tidak seharusnya semuanya berakhir seperti ini. Kita dapat membangun dunia baru disini, saat ini.”

Beberapa kelompok radikal di luar New Orleans merayakan penjarahan yang terjadi sebagai sebuah praksis anarkisme karena dalam pola penjarahanlah si miskin dapat merebut kembali hak hidupnya selain bahwa penjarahan berarti pula runtuhnya dunia jual-beli yang dimapankan kapitalisme. Tetapi penjarahan tanpa pembangunan komunitas, adalah sebuah hal yang setengah-setengah, ia bukanlah sebuah tindak revolusioner karena ia tak menawarkan sebuah tatanan dunia baru. Justru apa yang dilakukan oleh Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky, dua paramedis yang membangun pusat komunitas di French Quarter, serta kelompok tribal Johnny White itulah anarkisme melebur ke dalam praksis dan meninggalkan label utopianya. Dan itulah sebuah bukti bahwa dunia baru adalah sesuatu yang mungkin. Ia telah lahir di tengah puing dan kehancuran.

Problem bagi mereka di sana sekarang adalah bagaimana mereka dapat memapankan relasi sosial baru yang mulai terbentuk di sana, sementara bagi kita di luar New Orleans adalah bagaimana kita mulai mengubah relasi sosial kita sehari-hari di manapun kita tinggal, demi dunia baru yang mulai menampakkan sinarnya di reruntuhan New Orleans. Terakhir, alangkah pantasnya apabila artikel ini ditutup dengan sebuah kutipan dari Durrutti, seorang anarkis yang hidup di era perang sipil Spanyol 1936, “Setidaknya, kami tidak pernah takut lagi pada kehancuran, semenjak kami membawa dunia baru di hati kami.”

Read More......